Floating & Flood-Powered Public City Park Design sebagai Solusi Terhadap Efek Global Warming

Floating & Flood-Powered Public City Park Design

sebagai Solusi Terhadap Efek Global Warming

 

Muhammad Zulidhar 15409011

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota

Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan

Institut Teknologi Bandung

Email :muhammadzulidhar@yahoo.com

Abstrak

Matahari sebagai sumber utama energi bumi yang menghasilkan panas telah berhasil menghangatkan bumi. Sebagian panas terperangkap di atmosfer bumi dan membuat panas bumi semakin meningkat. Akibat terperangkap dan menumpuknya gas rumah kaca di atmosfer bumi membuat bumi mengalami pemanasan global. Perubahan temperatur global sejak tahun 1860 hingga saat ini telah berubah secara drastis. Akibatnya bencana banjir menjadi salah satu yang melanda akibat dari pemanasan global. Kota-kota menjadi rusak dan menghilangkan salah satu fasilitas umum yakni taman kota atau Ruang Terbuka Hijau (RTH). Floating & Flood-Powered Public City Park menjadi salah satu solusi RTH dengan konsep dan desain yang dirancang tahan banjir.

Kata Kunci: Pemanasan global, gas rumah kaca, banjir, RTH

 


Pendahuluan

Matahari adalah sumber energi utama bagi planet bumi. Matahari memberikan energinya dalam bentuk energi panas sehingga mampu menghangatkan bumi. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba ke permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca seperti uap airkarbondioksidasulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi.

Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Efek rumah kaca ini sebenarnya sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Dapat dilihat dari gambar di atas, perubahan temperatur global di permukaan bumi selalu meningkat setiap 20 tahun. Dampak dari perubahan temperatur global ini dapat berakibat iklim yang mulai tidak stabil, kenaikan permukaan air laut, suhu global mulai meningkat, dan gangguan ekologis. Dampak dari perubahan inilah yang merugikan bagi manusia. Salah satu dampak yang paling berpengaruh adalah kenaikan permukaan air laut. Semakin tingginya permukaan air laut dapat mengakibatkan banjir di seluruh dunia.

Akibat dari bencana banjir yang melanda di seluruh dunia, kebanyakan dari negara atau kota yang terkena banjir, secara langsung telah kehilangan RTH baik dalam skala besar maupun kecil. Dan untuk mengembalikan fungai RTH tersebut sangat sulit karena harus mengadakan perbaikan dari awal dan memakan biaya yang tidak sedikit.

Floating & Flood-Powered Public City Park

Gambar 1. RTH Buatan desain oleh GRO Architects

futuristic-floating-water-park

Melihat dampak yang diakibatkan oleh banjir ini, sebuah konsultan desain arsitek, GRO Architects, yang berasal dari New York, Amerika Serikat, mendesain sebuah RTH yang mampu mengapung di atas air dan memanfaatkan tenaga gelombang air sebagai energi penggerak untuk beberapa komponen yang ada di tubuh RTH buatan ini. RTH ini didesain dengan 2 alasan, yaitu (1) Bencana banjir dalam skala besar maupun kecil yang sering melanda negara atau kota, ‘menghilangkan’ taman/RTH yang ada sehingga untuk mengembalikan taman tersebut membutuhkan waktu yang lama, (2) Lahan untuk RTH sulit untuk didapatkan dan banyak polusi yang memenuhi udara di perkotaan sehingga butuh adanya RTH tambahan. Dari kedua alasan tersebut, maka muncullah ide pembuatan RTH buatan ini.

Lokasi penempatan RTH ini sendiri nantinya akan berada di sungai-sungai besar di suatu negara atau kota. Cara kerja dari RTH ini ialah dengan memanfaatkan gelombang dari permukaan air yang naik kemudian gelombang tersebut menggerakkan turbin penggerak yang ada di sekitar RTH ini dengan tujuan menggerakkan komponen penangkap sinar matahari guna menyinari tumbuhan yang berada di dalam RTH buatan ini.

Turbin yang berada di sekitar RTH ini bekerja tanpa suara dan hanya memberikan efek gelombang saja terhadap sekitarnya. Tidak ada efek suara yang membisingkan sehingga tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di dalam, di luar, ataupun di sekitar RTH ini.

Gambar 2. Badan RTH yang Mengapung di sungai

futuristic-floating-park-idea

Cahaya matahari untuk tanaman yang berada di dalam RTH berasal dari kolom-kolom yang ada di badan RTH ini dan untuk menambah pencahayaan bagi tanaman digunakan sebuah alat dengan teknologi bernama ‘remote skylight’, yang berfungsi menangkap cahaya matahari dan menyalurkannya lewat kabel fiber optik dan kemudian dipancarkan kembali ke dalam ruangan RTH ini. Sinar matahari yang dipancarkan kembali ke dalam ruangan RTH sama dengan sinar matahari yang dipancarkan langsung dari matahari ke panel surya sehingga tumbuhan yang berada di dalam RTH buatan ini tetap dapat berfotosintesis dan tumbuh subur.

Interior dari RTH ini sendiri didesain agar orang-orang yang masuk ke dalam dapat merasakan suasana yang nyaman, sejuk, fresh, dan tanpa polusi. Ditambah dengan banyaknya tempat duduk dan tanaman dalam ukuran besar membuat orang yang berada di dalam akan merasa sangat nyaman.

Keunggulan dan Kendala

Keunggulan dari RTH mengapung ini ialah konstruksi bangunan yang kuat dan mampu bertahan di sungai dengan aliran tenang-agak deras. Lokasi penempatan RTH yang berada di pinggir sungai dan tidak terlalu berada di tengah sungai -sehingga mampu dicapai orang dengan mudah- juga membuat RTH ini tidak akan dengan mudah berpindah-pindah. Selain itu, RTH mengapung ini memaksimalkan penggunaan energi alami yang berasal dari alam seperti cahaya matahari, tenaga gelombang air, dan tenaga angin. Dengan pemanfaatan energi alami tersebut akan menciptakan suasana nyaman di dalam RTH mengapung ini.

Namun selain keunggulan, RTH mengapung ini juga mempunyai kendala tersendiri. Pertama, pra-pembangunan. Kendala yang dialami adalah biaya yang cukup besar untuk membuat RTH terapung ini. Untuk membangun turbin yang besar dan dilengkapi dengan teknologi yang modern seperti fiber optik sebagai penyalur sinar matahari membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kedua, pasca pembangunan. Perawatan terhadap tanaman yang berada di dalam RTH terapung ini juga harus dilaksanakan, tidak hanya perawatan untuk tanaman tetapi juga kebersihan di dalam RTH terapung ini. Kendala berikutnya adalah ruang interior yang terbatas dan tergolong kecil. Ruang interior yang sebagian besar berbentuk tabung membuat space di dalam menjadi sempit sehingga kenyamanan dapat berkurang. Jadi kendala utama bagi RTH terapung ini adalah (1) biaya dan (2) space interior yang kecil.

Kesimpulan

RTH terapung ini dianggap menjadi solusi terhadap efek global warming, salah satu dampaknya adalah kenaikan air permukaan laut dan mengakibatkan bencana banjir dibeberapa negara. Selain itu, RTH terapung ini sangat bermanfaat bagi negara atau kota yang memiliki sungai besar dan kawasan perkotaan yang padat sehingga tidak ada lagi lokasi bagi pembuatan RTH di daratan. Desain yang futuristik, gagasan yang inovatif, teknologi yang canggih serta modern, dan konsep yang sangat luar biasa oleh GRO Architects ini sangat solutif bagi kota yang sudah sangat padat penduduk dan sering terkena bencana banjir hingga akhirnya kehilangan taman kota yang ada di daratan. Dengan konstruksi yang kuat dan tidak akan berpindah tempat, RTH terapung ini sangat memanfaatkan energi alami dan memberikan kenyamanan bagi mereka yang masuk ke dalamnya. RTH terapung ini juga bukan hanya berfungsi sebagai ruang terbuka bagi orang di kota tersebut namun juga bisa menjadi ikon sebuah kota sehingga mampu menarik jutaan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Daftar Pustaka

Susandi, Armi. 2004. Slide Kuliah ME 4234 Kebijakan Iklim. Bandung.

Unduh via

<http://www.dornob.com/Floating-&-Float-Powered-Public-City-Park-Design.html&gt;

Unduh via

<http://www.google.com/banjir-di-dunia.html&gt;

Unduh via <http://momo.blogspot.com/2012/11/RTH-terapung?-Indonesia-bisa?.html>

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s