Now and When : Kota Masa Depan.

Now and When : Kota Masa Depan.

Hari ini saya pergi ke salah satu mall ternama di Jakarta tepatnya di kawasan Sudirman. Disana saya menyempatkan diri mendatangi pameran yang ada di salah satu sudut mall tersebut. Tidak cukup banyak yang tahu mengenai pameran tersebut, terlihat dari banyaknya pengunjung yang hanya mondar-mandir di depan area pameran tersebut. Oke, karena memang sudah meniatkan diri untuk ke pameran tersebut, saya langsung berjalan ke sana.

Pameran ini diselenggarakan oleh Australian Institute of Architects dan didukung penuh oleh Pemerintah Australia melalui Australia International Cultural Council, atas gagasan atau prakarsa dari Department of Foreign Affairs and Trade (Departemen Luar Negeri dan Perdagangan). Dengan konsep modern dan futuristik, pameran ini dikemas dengan sangat amat menarik. Pameran ini sendiri bernama ‘Now and When : Kota Masa Depan’.

Setelah mengisi buku tamu di bagian depan pameran, saya dipersilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan yang besarnya tidak lebih dari 8x8m2. Didalam ruangan ini sangat gelap dan hanya terdapat beberapa garis-garis spotlight membentuk kata ‘Now’ dan ‘When’di dindingnya. Di dalam ruangan ini pula terdapat video 3D yang menceritakan tentang Australia kini dan nanti pada masa depan.

Tayangan video 3 dimensi karya John Gollings & Ivan Rijavec (Creative Directors), Floodslicer (www.floodslicer.com.au), Pidgeon (Graphic Design), Nick Murray & Carl Anderson (Sound Engineers).

Ya, di dalam ruangan ini saya hanya menyaksikan video 3D ini yang berdurasi 14 menit hasil garapan John Gollings dan Ivan Rijavec (Creative Directors). Video 3D ini sendiri diciptakan dengan menggunakan teknologi 3 dimensi baru pada fotografi yang terproyeksikan dan disimulasikan melalui komputer yang dibantu oleh Nick Murray dan Carl Anderson (Sound Engineers), Floodslicer (3D visualization), dan Pidgeon (Graphic Design). Pameran ‘Now and When : Kota Masa Depan’ diselenggarakan dalam 2 bagian : ‘Now’ (Kini), kajian fotografi 3 dimensi dari helikopter tentang kondisi perkotaan Australia yang ada, dan ‘When’ (Esok), spekulasi tentang evolusi kota-kota di benua yang unik ini di masa depan. Jika kota-kota yang ada sekarang memperlihatkan masa depan yang tidak mungkin, maka kita sebagai manusia harusmengupayakan opsi dan alternatif untuk masa depan.

Di pameran yang gratis dan buka pada hari Minggu-Kamis pukul 10.00 – 19.00 dan Jum’at-Sabtu pukul 10.00 – 21.00 ini menyajikan video 3D yang sangat bagus dan menarik. Video ini menjelaskan bahwa di Australia urbanisme telah mendorong potensi kreatif arsitektur. Urbanisme menawarkan penjelajahan yang kaya akan masalah-masalah yang dihadapi oleh penduduk dunia yang sangat urban. Namun hal ini juga mencakup implikasi yang lebih luas tentang kesejahteraan seluruh penduduk yang berdiam bersama di dunia dengan penghuni yang heterogen.

Now’ menggambarkan bagaimana kota-kota pesisir timur Australia seperti Melbourne, Sydney, Gold Coast, dan Surfers Paradise, yang disandingkan dengan pertambangan pedalaman di Australia Barat seperti di Newman dan Kalgoorlie. Saat Australia membangun ke atas di bagian timur, negeri ini justru menggali ke dalam di bagian barat, benar-benar menggali banyak lubang seluas kota dan mengirimkan hasil pertambangan tersebut ke mitra perdagangan di Asia dan tempat lainnya untuk menjadikannya kota lain.

Disinilah paradoks perkotaan Australia; membangun kota yang luar biasa besarnya di bagian pesisir timur, walaupun kekurangan lahan dan air, dan pada saat yang sama, menggali lubang-lubang pertambangan yang luar biasa besar di bagian barat, yang menciptakan bentuk-bentuk perkotaan organik yang pada dirinya menyinggung rancangan-rancangan dan kemungkinan-kemungkinan masa depan untuk penyelamatan.

When’ disini mewakili 17 pendekatan spekulatif yang merentang dari optimistik hingga subversif1. Dalam menghadapi tantangan masa depan, semuanya dapat dimengerti sebagai tindakan optimism yang penuh dengan kesenjangan, sebagai dalil bertahan hidup yang sengaja dilakukan. ‘When’ muncul dari lomba rancangan atau gagasan arsitektur Australia. Karya yang masuk ke pameran ini menghadirkan banyak sekali cara untuk melakukan pendekatan pada rancangan. Hal ini memperlihatkan bahwa kota-kota masa depan dapat berevolusi dari metodologi rancangan baru. Maka jelas sekali bahwa perancang masa depan harus haus akan alat baru untuk mencakup semua dinamisme kebersamaan hidup manusia beserta karyanya dan menjadikannya sebagai sarana untuk menciptakan lingkungan yang lebih efisien, indah, dan mengakomodasi. 17 opsi pendekatan atau jalan alternatif yang diajukan antara lain :

1. Multiplicity / Kemajemukan. John Wardle Architects & Stefano Boscuitti.

Pertumbuhan tidak lagi berlangsung di pinggiran kota namun juga terjadi di jantung hati kita. Melbourne telah tumbuh tidak saja keluar, namun juga ke atas dan ke bawah. Di masa depan kota kita akan bercerita tentang beranekaragam kisah. Banyak narasi dan kemungkinan.

2. Symbiotic City / Kota Simbiose. Steve Whitford (University of Melbourne) & James Brearly (Bau Brearly Architects and Urbanists, Adjunct Professor RMIT).

Berlapis-lapis jaringan dari sistem perkotaan dan perdesaan memungkinkan alam dan kota untuk sama-sama berdampingan dalam hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.

3. Mould City / Kota Kapang. Colony Collective, Melbourne School of Design (University of Melbourne).

Suatu sistem perkotaan yang membentuk ulang hubungan antara manusia, rumah, dan permukiman bersama. Kota Kapang ini tidak akan menyelamatkan kita, namun bila kita belajar bagaimana merawatnya,, kemungkinan baru akan muncul.

4. Terra form Australis / Wilayah membentuk Australis. HASSELL, Holopoint, & The Environment Institute.

Mengajukan pertanyaan tentang langkah strategis apa yang akan Australia harus lakukan untuk menampung penduduk sejumlah 50 juta jiwa pada tahun 2100.

5. Fear Free City / Kota Bebas akan Ketakutan. Justyna Karakiewicz, Tom Kvan, & Steve Hatzellis, Melbourne School of Design (University of Melbourne).

7 impian keputusasaan yang diikuti oleh 7 impian penuh hasrat dalam suatu proyek yang berupaya untuk membasmi ketakutan dan mengungkapkan kesempatan kota yang memuaskan dan berkelanjutan.

6. Survival Vs. Resilience / Kelestarian melawan Ketahanan. A Collaboration between BKK Architects, Village Well, Charter Keck Cramer & Daniel Piker.

Dari suatu asumsi bahwa kota harus direncanakan sebelum didirikan, proyek ini menjelajahi kebijakan yang sudah lazim tentang kota dengan banyak core.

7. The Ocean City / Kota Samudera. ARUP : Alanna Howe & Alexander Hespe.

Penanganan migrasi skala besar penduduk Australia dari darat ke laut menuntaskan peningkatan praktik biomimetik (meniru alam).

8. +41-41 / +41-41. Peck Dunin Simpson Architects.

Menyaksikan bagaimana gagasan di daur ulang dan berubah seiring berjalannya waktu, proyek ini memandang 41 tahun yang lampau guna memandang 41 tahun di masa yang akan datang.

9. Sydney 2050 : Fraying Ground /Sydney 2050 : Tanah yang Teretas. Rag Urbanism : Richard Goodwin (Richard Goodwin Art/Architecture), Andrew Benjamin & Gerard Reinmuth (Terroir).

Strategi perkotaan perataan, pengikatan, dan parasitisme diwujudkan melalui proses pemetaan kembali dan penggambaran ulang dalam seluruh skala.

10. Island Proposition 2100 /Usulan Pulau 2100. Scott Lloyd, Aaron Roberts, & Katrina Stool.

Sebagai perwujudan hiper-konektivitas, tulang punggung ipaioo bersisi sistem loop hybrid infrastructure, mengawali hubungan simbiosis yang baru antar pusat perkotaan dan dengan wilayah pendukung mereka.

11. Aquatown /Kota Air. NH Architecture with Andrew Mackenzie.

Seiring dengan menipisnya air dan sumber daya, kebutuhan akan suatu jenis infrastruktur yang baru akan meningkat, menghadirkan bentuk-bentuk perkotaan yang baru. Kota-kota pertumbuhan Australia memberikan tanggapan seperti akar pohon mencari makanan, menyebar ke perbatasan dan wilayah baru.

12. City of Hope /Kota Harapan.  Edmund & Corrigan.

Kota spesialis berpenduduk 50.000 jiwa terletak di perbatasan Taman Nasional Little Desert di daerah Victoria.

13. A Tale of Two Cities /Kisah Dua Kota. Billard Leece Partnership Pty Ltd.

Konsumsi yang berlebihan telah membangkrutkan ekonomi industri yang menjamin kesejahteraan rakyat sepanjang hidup dan kota-kota menyempurnakan, memadatkan, dan melipat gandakan. Nampak sebagai proyeksi holografik, doppelganger. Kota mengaudit dan memandu pembangunan kota jauh di bawah.

14. Implementing the Rhetoric / Penerapan Retorik. Harrison & White with Nano Langenheim.

Bayangkan pada tahun 2050 para politisi dan pihak berwenang dalam bidang perencanaan akan memiliki kekuasaan, keyakinan, dan pengetahuan untuk secara tegas mengatasi masalah perkotaan yang kritis. Dengan menggunakan teknik rancangan defragmentasi kami memvisualisasikan urbanisme secara harafiah dan berkelanjutan tanpa pernah mengurangi.

15. Sedimentary City /Kota Bersedimen. Brit Andresen & Mara Francis (The University of Queensland)

Kota Brisbane yang bersedimen adalah kota yang berlapis di atas kota, lapisan-lapisannya ada di dalam waktu dan ruang. Lapisan baru membawa jejak kota-kota lampau dengan potensi untuk menarik katalis-katalis fragmen yang hilang.

16. Saturation City / Kota Jenuh. McGauran Giannini Soon (MGS), Bild + Dyskors, Material Thinking.

Krisis rekaan, peningkatan permukaan laut setinggi 20 meter, memungkinkan penjelajahan di masa depan terhadap urbanisme Australia dapat melalui 4 tipologi yang khas.

17. How Does It Make You Feel ? / Bagaimana Hal Tersebut Mempengaruhi Perasaan Anda ?. Ben Statkus, Daniel Agdad, Melanie Etchell, William Golding, Anna Nguyen, & Joel Ng.

Berdasarkan premis bahwa daya tarik bumi dapat dikendalikan secara mendasar mengubah bagaimana struktur diwujudkan dan membuka kemungkinan kota-kota apung.

When’ menjelajahi kapasitas arsitektur sebagai seni pentas perkotaan dengan menghidupkan masa depan dalam citra stereoskop2 yang sangat nyata. Pemerintah Australia berniat untuk ‘mengaburkan’ realitas politik dan ekonomi arsitektur sehari-hari yang letih dengan peraturan. Hasilnya adalah spekulasi kreatif yang mencakup teori hingga fantasi murni, meledakkan debat perkotaan menjadi tontonan naluriah yang merumuskan analisa rasional.

Dalam sejarah manusia, visi-visi perkotaan sangat spekulatif dan telah muncul pada masa peralihan sejarah; ketika bangsa menghadapi tantangan berat pembangunan kembali pada pasca perang; atau melewati kekacauan revolusi kebudayaan dan industri. Pemerintah Australia kini menghadapi tantangan terberat – beradaptasi dengan perubahan iklim. Dalam perkembangannya saat ini, Australia mencoba untuk berbagi alternatif ini kepada khalayak luar dan lebih dikhususkan kepada kota Jakarta yang sudah sangat butuh bantuan. Diharapkan juga Indonesia dapat menjadi negara kepulauan yang jaya seperti masa lampau berdasarkan sejarah.

Kira-kita seperti itulah pameran berjudul ‘Now and When : Kota Masa Depan’, membuka pengetahuan dan kesadaran terhadap peliknya permasalahan perkotaan dan solusi yang diberikan dari dan untuk masyarakat dunia.

1 sub·ver·sif  terkait dengan sub·ver·si /subvérsi/ n gerakan dl usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yg sah dng menggunakan cara di luar undang-undang.

2 ste·re·o·skop /stéréoskop/ n alat untuk melihat gambar dng tiga dimensi.

One thought on “Now and When : Kota Masa Depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s